Langsung ke konten utama

Keluarga Bahagia


Setiap orang selalu berharap untuk bisa memiliki keluarga yang memberi kebahagiaan kepada dirinya. Tak heran setiap ada prosesi pernikahan, keluarga besar kedua pengantin selalu bahagia dan bergembira. Manusia sebagai makhluk sosial memang membutuhkan orang lain untuk bisa memenuhi kebutuhan hidupnya. Kebutuhan hidup tidak selalu berupa kebendaan, bisa juga kebutuhan yang sifatnya kejiwaan seperti:
a. disayangi dan dicintai,
b. dihormati dan ditaati,
c. dilindungi dan diayomi
d. didengar dan diperhatikan

Keluarga yang bahagia tidak ditentukan dengan banyaknya harta yang dimiliki tapi lebih kepada pengertian setiap pihak untuk menghormati hak dan kewajiban masing-masing anggota keluarga. Ketika ayah menyuruh anak untuk belajar berarti ayah menyadari bahwa dia punya kewajiban untuk mendidik anaknya sebaik mungkin dengan menyediakan pendanaan, memilihkan sekolah yang baik dan bermutu, menyediakan baju seragam, buku dan alat tulis untuk belajar, serta kendaraan untuk antar-jemput. Demikian juga dengan ibu yang dengan perannya turut serta mensukseskan program besar keluarga dalam pendidikan anak.

Supaya keluarga bisa mencapai tahap sakinah mawaddah wa rahmah (tenang, penuh cinta dan kasih sayang), maka harus ada kesatuan pandangan dan pola pikir dari ayah dan ibu. Beberapa faktor yang bisa mendatangkan sakinah, mawaddah wa rahmah adalah:

1. Tidak menikah beda agama
Ayah dan ibu sebagai unsur utama pembentuk keluarga tidak boleh memiliki aqidah (pokok dasar agama) yang berbeda. Ayah dan ibu yang muslim akan lebih mudah dalam mendidik anak tentang berbagai hal dalam Islam. Pengetahuan tentang Allah, Rasul dan Islam bisa tertanam dengan kuat pada diri anak didukung dengan contoh nyata praktik ibadah ayah dan ibu di keluarga. Ayah langsung berangkat ke masjid saat adzan berkumandang sambil menggendong buah hati memberikan pelajaran bahwa lebih baik sholat berjamaah di masjid bagi laki-laki. Ibu yang berjilbab rapi dan penuh kelembutan menjadi teladan bagi putrinya untuk menutup aurat sesuai ajaran Islam. Ayah yang menyayangi ibu dan ibu yang menghormati ayah juga menjadi sosok idaman kelak ketika si anak hendak menikah. Tidak ada perlakuan kekerasan dalam rumah tangga menjadi penguat cinta dan kasih sayang di antara anggota keluarga.
Hal seperti ini sulit didapatkan oleh mereka yang memaksakan diri menikah beda agama. Sangat mungkin terjadi keluarga besar masing-masing pihak akan merasa keberatan dengan keputusan kedua calon pengantin. Andaikata mereka berbahagia, kebahagiaan mereka akan putus dengan datangnya kematian.

2. Ayah memberi nafkah yang halal
Ayah berkewajiban memberikan nafkah yang halal bagi seluruh anggota inti keluarga. Rezeki yang halal membuat ringan beribadah, terkabulnya doa, meningkatkan keberkahan dan ketenangan dalam keluarga. Untuk mendapatkan harta yang halal, ayah harus memperhatikan sumber dan caranya. Jauhi penipuan dan pembohongan (investasi bodong, arisan berantai), pekerjaan maksiat (prostitusi, minuman keras, riba) dan kejahatan lainnya (merampok, korupsi). Harta yang baik di tangan muslim yang baik akan lebih bermanfaat bagi diri dan lingkungan sekitar.
Bagaimana dengan ibu yang bekerja? Tidak ada aturan dalam Islam yang melarang wanita untuk bekerja. Namun hal ini tidak boleh mengabaikan hak anak untuk mendapatkan curahan cinta dan kasih sayang ibu.Saat ini banyak cara untuk ibu supaya bisa mendapatkan uang dari rumah. Banyak contoh orang yang bekerja online di rumah bisa menambah pundi-pundi uangnya.

3. Ayah dan ibu menunjukkan rasa cinta di hadapan anak.
Ucapan salam dan kecupan ayah di kening ibu saat ayah hendak berangkat bekerja dan lambaian tangan ibu melepas kepergian ayah merupakan contoh sederhana yang bisa menjadi gambaran bahwa ayah dan ibu saling mencintai. Anak yang seriing melihat ayah dan ibu akur, rukun dan saling  mencintai akan memiliki perkembangan emosi yang baik. Anak akan tumbuh dan berkembang dengan perassan bahagia.
Konflik dan perdebatan yang terjadi selesaikan saja di kamar ayah dan ibu. Jangan tunjukkan di hadapan anak.
Anak dari keluarga yang ayah dan ibunya sering bertengkar bahkan bercerai akan memiliki perkembangan emosi yang labil, penuh amarah dan kebencian.Lebih banyak anak yang ketika dewasa akan menjadi sumber masalah dalam masyarakat.

4. Tidak berbohong kepada anak
Katakanlah terus terang apa adanya kepada anak. Jangan bohongi anak walau untuk hal yang sepele. Hal ini akan jadi bumerang bagi ayah ibu kelak ketika anak menyadari bahwa dia selama sering dibohongi. Anak akan tidak ragu dan makin berani untuk balik berbohong kepada ayah ibunya. Kalau ketahuan dia akan punya argumen, "Ayah dan ibu juga sering membohongi aku". Skakmat bagi ayah dan ibu. Tidak bisa lagi berucap selain mengelus dada.

5. Sediakan waktu untuk bercengkarama dan bergurau dengan anak-anak
Anda yang tinggal di Bekasi, Tangerang, dan Bogor dan bekerja di Jakarta tentu tiap hari menemui kondisi seperti ini: berangkat jam 05.30 supaya tidak telat masuk kantor jam 08.00 - 17.00 dan sampai di rumah jam 20.00 karena kondisi jalan yang macet. Kondisi badan yang capek membuat ayah ingin segera beristirahat. Padahal anak-anak pun punya hak untuk berbincang dan bercanda dengan ayah.
Agar hubungan ayah dan anak tidak makin renggang dan menjauh, wajib bagi ayah untuk menyediakan waktu di hari libur untuk mengajak anak berenang di kolan renang umum, atau jalan-jalan di taman kota dekat rumah, atau piknik ke tempat wisata. Kebersamaan ini akan membekas pada hati anak sehingga anak lebih memahami ayah ketika ayah harus lembur dan pulang larut malam.

Komentar